Mei 29, 2009

Masih Baik


Suatu hari, sepulang sekolah, aku putuskan untuk mengatur moodku yang seringkali jelek. Sebenarnya ini adalah wujud rasa syukurku kepadaNya karena telah memberiku teman-teman yang selalu membuatku tertawa, tak hanya tersenyum. Hari itu aku bertekat untuk berbagi kebahagiaan untuk orang lain.

Sebelum berangkat les, di depan pintu, aku busungkan dada, membaik-baikkan moodku. Kubahagiakan hatiku, kutarik ujung-ujung bibir, lalu kutajamkan penglihatan, biar wajahku terlihat cerah, dan pencuri tak bisa mengelabuhiku..hehe… Tujuanku cuma ingin membuat orang yang nanti melihatku, ikut tersenyum dan bahagia. ^_^

Rencana berjalan lancar! Mulai dari tetangga yang secara gak sengaja papasan, kernet bis, penumpang bis, staf tata usaha di tempat lesku, semuanya tak tertinggal satupun membalas senyumku. Jadi ikutan happy nieh…. ^_^ Pas pulang les, aku naik bus. Karena penuh, aku berdiri sampai Pasar Ungaran. “Ah, tak apa. Penumpang lain pasti lebih membutuhkan tempat duduk itu dari pada aku yang cuma turun di Bergas”, kata hatiku. Padahal, tau sendiri kan gimana kondisi Bus Bandungan di sore hari. Aku sendiri merasa aneh, ingetnya. Kok bisa ya? Padahal aku kan juga capek!

Bus terus melaju meninggalkan pasar, melewati toko baju, lalu kebahagiaan mendatangiku. Lho?

Iya! Bapak setengah baya yang duduk di jok sebelaku persis, turun di Supermarket Luwes!. Menurut adat istiadat Bus Bandungan, itu berarti kalau waktuku berdiri mengantri duduk, sudah berakhir. Ditambah, aku seorang gadis. Ladies first! Gitulah kira-kira peraturannya.

Aku tak ambil tempo, langsung melangkahkan satu kaki ke depan jok sebelum gadis lain mendahului. Menurut peraturan, itu bagianku. Jadi, kata-kata mendahului rasanya tak menggambarkan kalau aku merebutnya. Sebelum aku duduk, tumben kali ini aku teliti. Aku sempat tengok, melihat ke jok, siapa tahu ada paku atau bekas orang mabuk. Ya, intinya jaga diri. Tapi, tebak apa yang aku temuin! HP! Untung Bapak yang tadi belum turun.


A : “Pak, HPnya ketinggalan ni!”

B : (ngraba saku belakang celana)

“Oh, iya! Trimakasih, Mbak”

A : “Sama-sama, Pak”


Karena busnya sambil cari penumpang lain, jalan dari pasar sampai ke supermarket jadi agak lama. Tapi waktu itu aku sama Bapaknya udah lukir tempat. Melihat ada kesempatan, si Bapak nengok ke aku lagi.


B : “Trimakasih banyak ya, Mbak”

A : “oh, iya. Sama-sama, Pak” (bahagia)


Bus terus berjalan dan aku ngelamunin kejadian barusan sambil lihat-lihat pemandangan karena aku duduk dekat jendela. Aku terbayang-bayang, apa bener HP tadi milik Bapaknya? Jangan-jangan milik penumpang yang duduk di situ sebelum Bapaknya? Jangan-jangan bukan milik Bapaknya, tapi karena aku kasih….masak dia mau nolak?! Apa jangan-jangan HP itu hasil curian Bapaknya? Lho? Jadi bingung sendiri.

Hmm…. (mikir) “Aku niat ngembaliin!”, tiba-tiba hatiku berseru. “Masalah selanjutnya, urusan Bapaknya dong!”, anggap hatiku. Aku masih kepikiran tapi aku coba lupakan sambil lihat-lihat pemandangan lagi.

Hmm….. (mikir bag. 2) “Ya Allah! Alhamdulillah……. Ternyata aku ini masih baik, ya? Alhamdulillah”, seruku dalam hati. Aku tersadar. Semua hal yang aku pusingkan tadi gak seberapa jelek (walau cuma buat aku sendiri) dibanding kalau tadi aku gak ngembaliin tu HP, lalu aku jual buat kepentinganku sendiri. Astaghfirullah, na’udzubillah….. Alhamdulillah….. Aku masih baik! ^_^

Desember 30, 2008

Dia

Alisnya tebal, lurus segaris
Dan matanya tajam
Menyorotkan keberanian menantang hidup

Tangan dan kakinya
Kekar, kuat
Menggambarkan hidupnya yang s’lalu dipenuh perjuangan

Hatinya yang sekeras batu karang
Menjadi sangat goyah
Ketika ketidakpastian hidup menghadang

Punggungnya bungkuk
Membuat orang tau
Bahwa ia adalah tulang punggung harapan keluarga

Cintanya…
Tulus mengalir
Seringan mata air membasahi bumi
Dalam…
Sekuat akar pohon beringin tertua
Mengambil mineral cinta murni
Dari dasar hatinya

Tanpa banyak pikir
Tanpa banyak pertimbangan
Dia lakukan apa yang menurutnya benar

Dia bukan anak emas berbudi luhur kesayangan Ayahnya
Dia juga bukan orang spesial yang selalu mendapat perhatian

Dia…
S’elalu menatap ke depan
‘tak banyak peduli pada perasaanya
Yang memang ‘tak pernah dipedulikan orang

Dia jalani hidup tanpa beban
Walau telah membuatnya bungkuk

Dia pasrahkan nasibnya mengalir
Mengikuti relief dataran sungai yang teramat terjal
Bersama air alam sebening imannya
Menuju muara keabadian

This poerty is dedicated to someone in my hearth, happy birthday

Oktober 20, 2008

Kekuatan dari "Yang Terakhir"

Hidup ini seperti air
Terus mengalir


Menuju sebuah muara
Titik terakhir


Seperti manusia
Berjalan ke tujuan akhirnya


Tujuan yang tak dibuat sembarangan


Membutuhkan prinsip,
usaha keras,
do'a,
dan yang terakhir
tawakal
untuk meraihnya


Adakah yang menyadari?


Dengan tawakal
Kita ikhlas

Ikhlas atas semua yang telah Kita korbankan demi mencapai tujuan
Ikhlas demi bersyukur untuk segala takdir-Nya
Ikhlas berlandaskan keyakinan bahwa
Hanya Dialah Yang Maha Memberi dan Yang Maha Tau yang terbaik untuk hamba - hamba-Nya


Dengan tawakal
Kita tak kan jadi penyombong

Penyombong yang tak bersyukur karena merasa telah bekerja keras
Penyombong yang lupa bahwa ini semua hanyalah titipan-Nya


Dan dengan tawakal
Kita kembali ke hakikat islam




Berserah diri pada-Nya